Di Dalam Cahaya - Vocaloid Gakupo Luka
💜💗💜💗💜 Story 💗💜💗💜💗 Within the Light The moment the magic was completed, everything around them suddenly fell silent. The magical energy that had been flowing through the air gradually settled, leaving behind countless tiny particles of light floating around the two of them. Those lights were like stars born from the magic circle, slowly rising toward the sky one by one. Luka raised her head, her blue eyes reflecting the breathtaking sight before her. “…It’s beautiful.” Her voice was soft, as though she were afraid that speaking any louder might make the miracle before them disappear. Gakupo said nothing either. He simply stood beside her, gazing at the light they had created together. Darkness and light had not rejected one another. Instead, after they cast the spell together, the two completely different forms of magic had formed a perfect balance. The light slowly spread across the sky. Countless delicate rays intertwined, resembling flowers blooming across the night sky. Luka unconsciously took a small step forward. “This is… the magic we cast together.” “Yeah.” Gakupo answered quietly. His gaze remained fixed upon the sky. “It’s stronger than I imagined.” Luka smiled softly. “Because it’s the power of two people.” She lowered her head and looked at the staff they were still holding together. The magical energy remaining within it was gradually fading, leaving behind only a gentle glow. The power that had almost shaken the entire sky just moments ago had now become calm and peaceful. Gakupo followed her gaze. “If I were alone, I probably couldn’t have achieved something like this.” Luka blinked. “Me neither.” Their eyes met for a moment. The brief silence made the tranquility around them feel even more profound. Luka smiled again. “Looks like we really work well together.” Gakupo paused slightly. Then a faint smile appeared on his face. “Seems that way.” The light in the sky continued to shine. A gentle beam of light rose from the distance, eventually transforming into countless tiny particles that drifted downward. Several specks of light landed on Luka’s long pink hair. Gakupo noticed and quietly said, “There’s some light in your hair.” “Really?” Luka raised her hand, but she could not quite reach it. Gakupo stepped slightly closer and gently brushed away one of the glowing particles for her. The tiny light remained on his fingertips for a moment before disappearing. Luka quietly looked at him. “Thank you.” “You’re welcome.” Neither of them let go of the staff. It was as though neither was in any hurry to end the magic they had created together. They simply remained where they were, watching the light they had created with their own hands slowly merge into the sky. Luka spoke softly. “I hope we can see a sight like this again someday.” Gakupo turned toward her. “Then let’s cast magic together again.” Luka froze for a moment before breaking into a bright smile. “Okay.” Their gazes returned to the sky. The light continued to shine. Beneath that radiance, the two magic users still stood side by side, sharing their grip on the same staff. This time, they were more certain than ever— As long as their magic could resonate with each other again, there would be even more miracles belonging only to the two of them waiting ahead. ------- Melayu Saat sihir itu selesai, segala-galanya di sekeliling mereka tiba-tiba menjadi sunyi. Tenaga sihir yang mengalir di udara beransur-ansur reda, meninggalkan ribuan zarah cahaya kecil yang terapung di sekeliling mereka berdua. Cahaya-cahaya itu bagaikan bintang yang lahir daripada lingkaran sihir, perlahan-lahan naik menuju ke langit satu demi satu. Luka mendongakkan kepalanya, matanya yang biru memantulkan pemandangan indah di hadapannya. “…Cantiknya.” Suaranya begitu lembut, seolah-olah dia takut pemandangan ajaib di hadapan mereka akan lenyap jika dia bersuara terlalu kuat. Gakupo juga tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri di sisinya, memandang cahaya yang mereka cipta bersama. Kegelapan dan cahaya tidak saling menolak. Sebaliknya, selepas mereka menggunakan sihir bersama, dua jenis tenaga sihir yang begitu berbeza itu membentuk keseimbangan yang sempurna. Cahaya perlahan-lahan merebak di langit. Jalur-jalur cahaya yang halus saling berjalin, seolah-olah bunga sedang berkembang di seluruh langit malam. Luka tanpa sedar melangkah setapak ke hadapan. “Inilah… sihir yang kita hasilkan bersama.” “Ya.” Gakupo menjawab dengan perlahan. Matanya masih tertumpu pada langit. “Ia lebih kuat daripada yang saya bayangkan.” Luka tersenyum kecil. “Kerana ini adalah kekuatan dua orang.” Dia menundukkan kepala dan memandang tongkat panjang yang masih mereka pegang bersama. Tenaga sihir yang masih tersisa di dalamnya semakin lama semakin hilang, meninggalkan cahaya yang lembut. Kuasa yang sebentar tadi hampir menggoncangkan seluruh langit kini telah menjadi tenang dan damai. Gakupo turut memandang ke arah yang sama. “Kalau saya seorang diri, mungkin saya tidak mampu melakukan sesuatu seperti ini.” Luka berkedip. “Saya pun sama.” Pandangan mereka bertemu seketika. Kesunyian yang singkat itu membuat suasana di sekeliling mereka terasa semakin damai. Luka tersenyum. “Nampaknya kita memang sangat serasi apabila bersama.” Gakupo terdiam seketika. Kemudian senyuman tipis muncul di wajahnya. “Nampaknya begitu.” Cahaya di langit masih terus bersinar. Satu pancaran cahaya lembut muncul dari kejauhan, kemudian berubah menjadi zarah-zarah kecil yang turun perlahan-lahan. Beberapa titik cahaya hinggap pada rambut panjang Luka. Gakupo menyedarinya lalu berkata dengan perlahan, “Ada cahaya di rambut awak.” “Betulkah?” Luka mengangkat tangannya, tetapi dia tidak dapat mencapainya. Gakupo melangkah sedikit lebih dekat lalu dengan lembut menyapu satu zarah cahaya itu dari rambutnya. Cahaya kecil itu kekal di hujung jarinya seketika sebelum menghilang. Luka memandangnya dengan tenang. “Terima kasih.” “Sama-sama.” Mereka berdua masih tidak melepaskan tongkat itu. Seolah-olah tiada seorang pun daripada mereka tergesa-gesa untuk mengakhiri sihir yang telah mereka cipta bersama. Mereka hanya berdiri di situ, menyaksikan cahaya yang mereka hasilkan sendiri perlahan-lahan menyatu dengan langit. Luka berkata dengan lembut, “Saya harap suatu hari nanti kita dapat melihat pemandangan seperti ini lagi.” Gakupo menoleh kepadanya. “Kalau begitu, mari kita gunakan sihir bersama lagi.” Luka terdiam seketika sebelum tersenyum cerah. “Baik.” Pandangan mereka kembali tertumpu ke langit. Cahaya itu masih bersinar. Di bawah cahaya tersebut, dua orang pengguna sihir itu masih berdiri berdampingan, bersama-sama memegang tongkat yang sama. Kali ini, mereka lebih yakin daripada sebelumnya— Selagi kuasa sihir mereka dapat bergema antara satu sama lain sekali lagi, pasti akan ada lebih banyak keajaiban yang hanya menjadi milik mereka berdua menanti di hadapan.

