Mengabadikan Setiap Senyumanmu - Vocaloid 神威x巡音
💜💗💜💗💜 Story 💗💜💗💜💗 Treasuring Every Smile of Yours The flower festival was still lively that afternoon. Stalls lined the pathways, attracting plenty of visitors, while cheerful music drifted from somewhere in the distance. A gentle breeze passed through the crowd, bringing a pleasant coolness to the air. Luka glanced down at the flower in her hand before looking up at Gakupo, who was checking the photographs he had just taken. “Gakupo.” “Hmm?” He raised his head. Luka stepped closer and leaned toward the camera to see the pictures. In the photograph, she was holding the flower and smiling naturally, looking so happy that she couldn't help smiling again when she saw it. “These turned out really lovely,” she said softly. “That's because your smile is lovely.” Gakupo answered so naturally that Luka froze for a moment. She quickly turned her gaze away, pretending to concentrate on the photograph. However, the smile lingering on her lips betrayed her feelings, and Gakupo noticed it immediately. After a while, she lifted her head again, anticipation shining in her eyes. “I want to take one more picture.” Gakupo looked at her and steadied the camera once more. “All right. How would you like to pose this time?” Luka thought for a moment, then glanced at the flower in her hand and gently raised it beside her cheek. She didn't try to strike an elaborate pose. Instead, she simply stood in the afternoon sunlight and turned her face toward Gakupo. “Is this okay?” “Perfect.” He looked at her through the viewfinder and adjusted the angle slightly. However, Luka didn't smile right away. She gazed toward the camera as though she had suddenly thought of something, and her eyes brightened. “Gakupo, make sure you look at me, too.” “I'm looking at you right now.” His answer made her cheeks turn faintly pink. “That's not what I meant…” she protested. “I mean, when you're taking the picture, look at me instead of concentrating only on the camera.” Gakupo couldn't help smiling. “All right. I'll look at you.” He lowered the camera slightly and met her gaze over its top edge. At that moment, Luka's carefully prepared expression suddenly became awkward. She had only wanted to take another photograph, yet the moment their eyes met, she forgot what she had intended to do. Gakupo didn't rush her. He simply waited patiently. “What's wrong?” he asked gently. “Nothing…” Luka shook her head softly, finally breaking into a smile. “It's just that looking at you like this makes me feel more nervous than looking at the camera.” Gakupo's gaze softened. “Then you don't have to look at the camera.” “Huh?” “Just look at me.” Luka stared at him, the flower still resting lightly beside her cheek. After a moment, she finally smiled. This time, it wasn't a smile she had prepared for the photograph. She was smiling because of the person standing before her, because of the tenderness in his voice, and because she was spending this lovely afternoon with him. The shutter clicked at that very moment. Gakupo lowered the camera and checked the photograph. This time, Luka wasn't deliberately smiling at the lens. Her gaze was fixed on him, her eyes filled with unmistakable happiness, as though the person standing behind the camera mattered more to her than any of the beautiful sights at the flower festival. “Are you done?” Luka asked as she approached him. “I'm done.” He showed her the photograph. Luka stared at the screen, her eyes widening slightly. “This one…” “Don't you like it?” “No!” She shook her head quickly, then pressed her lips together shyly. “I love it.” She reached out and gently touched the screen with her fingertip, as though she wanted to hold on to that moment a little longer. “Because I really do look happy.” Gakupo watched her and replied quietly, “You've been happy all day.” “That's because you came here with me!” Her answer was so straightforward that she only realized how openly she had expressed herself after the words had left her mouth. She stepped back a little, hugging the flower to herself and pretending to admire a nearby stall. Gakupo didn't tease her or press her for an explanation. He simply put the camera away and stayed beside her. A few seconds later, he spoke softly. “Then let's come here together again next time.” Luka turned toward him, anticipation returning to her eyes. “Really?” “Of course. I'll take more pictures of you next time, too.” “Promise?” She held out her little finger, as though she wanted him to make the promise official. Looking at her childish gesture, Gakupo smiled fondly. In the end, he extended his own hand and hooked his little finger around hers. “I promise.” The breeze passed through the festival once more, making the flower in Luka's hand sway gently. She didn't immediately let go of his hand. Instead, she looked at the man who had just made that promise to her and smiled more brightly than she had in any of the photographs. Suddenly, Gakupo felt that the camera he had brought might not be enough. Because the moments he wanted to treasure weren't limited to this single photograph. He wanted to preserve every afternoon they spent together in the future, every smile that escaped her without warning, and the feelings that stirred inside him whenever she called his name and walked toward him. Those were the moments that always made him wish he could look at her just a little longer. ------- Melayu Pesta bunga itu masih meriah pada petang tersebut. Gerai-gerai berderet di sepanjang laluan, menarik perhatian ramai pengunjung, sementara muzik yang ceria kedengaran dari suatu tempat yang agak jauh. Bayu lembut bertiup di celah-celah orang ramai, membawa kesejukan yang menyenangkan. Luka memandang bunga di tangannya sebelum mengangkat wajah ke arah Gakupo, yang sedang memeriksa gambar-gambar yang baru diambilnya. “Gakupo.” “Hmm?” Dia mengangkat kepala. Luka menghampirinya lalu mencondongkan badan sedikit untuk melihat gambar-gambar itu. Dalam gambar tersebut, dia sedang memegang bunga sambil tersenyum secara semula jadi. Dia kelihatan begitu gembira sehingga tanpa sedar, dia turut tersenyum lagi ketika melihat hasil gambar itu. “Gambar-gambar ini cantik sekali,” katanya perlahan. “Kerana senyumanmu memang cantik.” Gakupo menjawab dengan begitu bersahaja sehingga Luka terkedu seketika. Dia segera mengalihkan pandangan, berpura-pura menumpukan perhatian pada gambar tersebut. Namun, senyuman yang masih terukir di bibirnya membongkar perasaannya, dan Gakupo menyedarinya serta-merta. Tidak lama kemudian, Luka mengangkat wajah semula. Matanya bersinar penuh harapan. “Saya mahu ambil satu gambar lagi.” Gakupo memandangnya lalu memegang kamera dengan kemas sekali lagi. “Baiklah. Kali ini, bagaimana kamu mahu bergaya?” Luka berfikir sejenak sebelum memandang bunga di tangannya dan mengangkatnya perlahan-lahan ke sisi pipi. Dia tidak cuba membuat gaya yang berlebihan. Sebaliknya, dia hanya berdiri di bawah cahaya matahari petang lalu memalingkan wajah ke arah Gakupo. “Macam ini boleh?” “Sempurna.” Gakupo memandangnya melalui pemidang tilik lalu melaraskan sudut kamera sedikit. Namun, Luka tidak terus tersenyum. Dia memandang ke arah kamera seolah-olah baru terfikir tentang sesuatu, kemudian matanya bersinar. “Gakupo, pastikan kamu juga memandang saya, ya.” “Saya sedang memandang kamu sekarang.” Jawapannya membuat pipi Luka merona sedikit. “Bukan begitu maksud saya…” bantahnya. “Maksud saya, semasa mengambil gambar, pandanglah saya dan jangan hanya menumpukan perhatian pada kamera.” Gakupo tidak dapat menahan senyumannya. “Baiklah. Saya akan memandang kamu.” Dia menurunkan kamera sedikit lalu bertentang mata dengan Luka di atas kamera itu. Pada saat tersebut, ekspresi yang telah disediakan oleh Luka tiba-tiba menjadi serba tidak kena. Dia hanya mahu mengambil sekeping gambar lagi, tetapi sebaik sahaja mata mereka bertemu, dia terlupa apa yang ingin dilakukannya. Gakupo tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan sabar. “Kenapa?” tanyanya dengan lembut. “Tak ada apa-apa…” Luka menggeleng perlahan sebelum akhirnya tersenyum. “Cuma, apabila saya memandang kamu begini, saya rasa lebih gementar berbanding ketika memandang kamera.” Pandangan Gakupo menjadi semakin lembut. “Kalau begitu, kamu tak perlu memandang kamera.” “Eh?” “Pandang saya sahaja.” Luka merenungnya, sementara bunga itu masih berada di sisi pipinya. Selepas beberapa saat, akhirnya dia tersenyum. Kali ini, senyuman itu bukanlah senyuman yang sengaja dibuat untuk gambar. Dia tersenyum kerana lelaki yang berdiri di hadapannya, kerana kelembutan dalam suaranya, dan kerana dapat menghabiskan petang yang indah ini bersamanya. Bunyi pengatup kamera kedengaran tepat pada saat itu. Gakupo menurunkan kamera lalu memeriksa gambar tersebut. Kali ini, Luka tidak sengaja tersenyum ke arah lensa. Pandangannya tertumpu pada Gakupo, dan matanya dipenuhi kebahagiaan yang jelas terpancar. Seolah-olah lelaki yang berdiri di belakang kamera itu jauh lebih bermakna baginya daripada segala pemandangan indah di pesta bunga tersebut. “Dah siap?” tanya Luka sambil menghampirinya. “Dah siap.” Dia menunjukkan gambar itu kepada Luka. Luka memandang skrin dengan mata yang sedikit terbeliak. “Yang ini…” “Kamu tak suka?” “Bukan!” Dia segera menggeleng sebelum merapatkan bibirnya dengan malu-malu. “Saya sangat suka.” Dia menghulurkan tangan lalu menyentuh skrin itu dengan hujung jarinya secara perlahan, seolah-olah mahu menyimpan detik tersebut lebih lama. “Sebab saya memang nampak gembira.” Gakupo memandangnya lalu menjawab dengan suara perlahan, “Kamu memang gembira sepanjang hari ini.” “Sebab kamu datang ke sini bersama saya!” Jawapannya begitu terus terang sehingga hanya selepas kata-kata itu terucap, barulah dia menyedari betapa terbukanya dia meluahkan perasaannya. Dia berundur sedikit sambil memeluk bunga itu, berpura-pura mengagumi sebuah gerai yang berdekatan. Gakupo tidak mengusiknya atau mendesaknya untuk menjelaskan kata-katanya. Dia hanya menyimpan kamera lalu terus berada di sisinya. Beberapa saat kemudian, dia bersuara lembut. “Kalau begitu, lain kali kita datang ke sini bersama-sama lagi.” Luka berpaling ke arahnya, dan sinar harapan kembali terpancar di matanya. “Betulkah?” “Sudah tentu. Lain kali, saya akan mengambil lebih banyak gambar kamu juga.” “Janji?” Dia menghulurkan jari kelingkingnya, seolah-olah mahu memastikan Gakupo benar-benar menunaikan janji itu. Melihat gelagatnya yang keanak-anakan, Gakupo tersenyum penuh kasih. Akhirnya, dia menghulurkan tangannya sendiri lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Luka. “Saya janji.” Bayu kembali bertiup melalui kawasan pesta, membuatkan bunga di tangan Luka bergoyang lembut. Dia tidak segera melepaskan tangan Gakupo. Sebaliknya, dia memandang lelaki yang baru sahaja berjanji kepadanya itu lalu tersenyum lebih ceria daripada mana-mana senyumannya dalam gambar tadi. Tiba-tiba, Gakupo merasakan bahawa kamera yang dibawanya mungkin tidak mencukupi. Kerana detik-detik yang ingin disimpannya bukan sekadar sekeping gambar ini. Dia mahu mengabadikan setiap petang yang bakal mereka habiskan bersama, setiap senyuman yang muncul tanpa diduga, dan perasaan yang bergetar dalam hatinya setiap kali Luka memanggil namanya lalu berjalan ke arahnya. Semua itulah yang sentiasa membuatkan dia ingin memandang Luka sedikit lebih lama.
#Lover#Gothic#Gothic Lolita#Portrait#Upper body#Very Long Hair#Camera#Vocaloid#Hairband#long hair#Goth fashion#pink hair#purple hair#Gakupo Kamui#couple#Megurine Luka#Smile#Viewfinder#Jacket#Flower#Lolita Fashion#blue eyes#Open mouth#Purple eyes#Recording#Looking at viewer#Blurry#bishounen#Girl#Boy#Holding#Vsinger#Husband and wife#Hetero#Close-up#Closed mouth#Holding flower#Talking Head#Hatsune Miku: Colorful Stage!#flower wreath#Kamui#Young Couple#Luka#VOCADOL#Lolita#Pink Hair-chan#Hair Between Eyes#PixAI 4th Anniversary One-Tap Recipe#PixAI Recipe
Commenti