Tarian Romantis Tanpa Musik - Vocaloid 神威がくぽx巡音ルカ
💜💗💜💗💜 Story 💗💜💗💜💗 A Romantic Dance Without Music The two angels continued flying hand in hand above the human city. Below them, countless lights stretched across the streets, resembling stars scattered across the earth. From this height, the bustling city seemed quieter, and the river winding through it reflected the lights like a long ribbon of silver. Luka gently swung their joined hands. “Gakupo.” “Hmm?” “Would you like to dance with me?” Gakupo looked at her for a moment, then smiled softly. “Here?” “Here.” Luka’s blue eyes sparkled with anticipation. “There’s no music, and no one is watching us. Isn’t that even better?” Gakupo gave a quiet laugh. “Then I suppose there’s no reason to refuse.” His fingers tightened gently around hers. Luka smiled brightly. “Then let’s dance.” They slowed their flight until they were almost suspended in the air. Gakupo raised their joined hands slightly, and Luka followed his movement naturally. She turned gracefully beneath their intertwined hands, her long pink hair flowing behind her in the breeze. When she completed her turn, Gakupo gently guided her back toward him. Their hands remained intertwined. Luka looked at him and smiled. “Like this?” “Exactly.” They began to move together in the open sky. There was no orchestra, no stage, and no audience. Yet somehow, the silence itself became their music. Their movements followed one another naturally. Sometimes Gakupo led, and sometimes Luka playfully changed the rhythm, making him follow her instead. When Luka suddenly spun away, Gakupo reached for her hand and drew her back. She laughed softly. “You caught me.” “I wouldn’t let you get too far away.” The words were simple, but Luka's expression softened. She looked at their tightly joined hands, then back at him. “I like hearing you say things like that.” Gakupo paused for a moment. Then his smile became gentler. “Then I’ll say them more often.” Luka’s cheeks warmed slightly. They continued dancing among the clouds. Sometimes they turned together, sometimes they simply floated side by side, and sometimes their hands remained connected while they moved slowly through the night. The city beneath them continued to shine. But neither of them was paying much attention to it anymore. For that moment, their world seemed to have become much smaller. There was only the night sky, the distant lights, the gentle wind, and the person standing beside them. After another slow turn, Luka came closer. Their shoulders nearly touched. “Gakupo.” “Yes?” “I think this is one of the most beautiful things I’ve ever seen.” Gakupo looked toward the city below, then turned his gaze back to her. “The city?” Luka shook her head. “No.” She smiled. “Being able to see it with you.” Gakupo was quiet for a moment. Then he gently squeezed her hand. “I feel the same way.” Luka’s smile deepened. They remained together in the air for a little while longer, quietly enjoying the peaceful moment. Eventually, Luka looked ahead. “Shall we keep flying?” “Of course.” Their fingers remained intertwined. Together, they spread their wings and began flying forward again, leaving the quiet place where they had danced behind them. The human world still had countless places waiting for them to discover. And tonight, they wanted to see them all together. ------- Indonesia Kedua malaikat itu terus terbang bergandengan tangan di atas kota manusia. Di bawah mereka, ribuan cahaya membentang di sepanjang jalan, menyerupai bintang-bintang yang tersebar di bumi. Dari ketinggian ini, kota yang ramai terlihat jauh lebih tenang, sementara sungai yang berkelok-kelok memantulkan cahaya seperti pita perak yang panjang. Luka mengayunkan tangan mereka yang saling bertaut dengan lembut. “Gakupo.” “Hm?” “Maukah kamu menari bersamaku?” Gakupo menatapnya sejenak, lalu tersenyum lembut. “Di sini?” “Di sini.” Mata biru Luka berkilau penuh harapan. “Tidak ada musik, dan tidak ada seorang pun yang melihat kita. Bukankah itu justru lebih baik?” Gakupo tertawa pelan. “Kalau begitu, kurasa tidak ada alasan untuk menolaknya.” Jari-jarinya menggenggam tangan Luka sedikit lebih erat. Luka tersenyum cerah. “Kalau begitu, mari kita menari.” Mereka memperlambat penerbangan hingga hampir melayang di tempat. Gakupo mengangkat tangan mereka yang saling bertaut sedikit lebih tinggi, dan Luka mengikuti gerakannya dengan alami. Ia berputar dengan anggun di bawah tangan mereka yang saling menggenggam, sementara rambut merah mudanya yang panjang mengalir tertiup angin. Setelah menyelesaikan putarannya, Gakupo dengan lembut mengarahkannya kembali kepadanya. Tangan mereka tetap saling bertaut. Luka menatapnya dan tersenyum. “Seperti ini?” “Tepat sekali.” Mereka mulai bergerak bersama di langit yang luas. Tidak ada orkestra, tidak ada panggung, dan tidak ada penonton. Namun entah mengapa, keheningan itu sendiri terasa seperti musik bagi mereka. Gerakan mereka mengikuti satu sama lain secara alami. Terkadang Gakupo yang memimpin, dan terkadang Luka dengan sedikit jahil mengubah irama sehingga justru Gakupo yang harus mengikutinya. Ketika Luka tiba-tiba berputar menjauh, Gakupo meraih tangannya dan menariknya kembali dengan lembut. Luka tertawa kecil. “Kamu menangkapku.” “Aku tidak akan membiarkanmu pergi terlalu jauh.” Kata-kata itu sederhana, tetapi ekspresi Luka langsung menjadi lebih lembut. Ia memandang tangan mereka yang masih erat bertaut, lalu kembali menatap Gakupo. “Aku suka mendengarmu mengatakan hal-hal seperti itu.” Gakupo terdiam sejenak. Kemudian senyumnya menjadi semakin lembut. “Kalau begitu, aku akan mengatakannya lebih sering.” Pipi Luka sedikit menghangat. Mereka kembali menari di antara awan-awan. Terkadang mereka berputar bersama, terkadang hanya melayang berdampingan, dan terkadang tangan mereka tetap saling bertaut sementara mereka bergerak perlahan melewati langit malam. Kota di bawah mereka masih terus berkilauan. Namun, mereka berdua sudah tidak terlalu memperhatikannya lagi. Untuk sesaat, dunia mereka seolah menjadi jauh lebih kecil. Hanya ada langit malam, cahaya-cahaya yang jauh, angin yang lembut, dan seseorang yang berada di sisi mereka. Setelah satu putaran perlahan, Luka mendekat. Bahu mereka hampir bersentuhan. “Gakupo.” “Ya?” “Kurasa ini adalah salah satu hal terindah yang pernah kulihat.” Gakupo melihat kota di bawah mereka, kemudian kembali menatap Luka. “Kotanya?” Luka menggelengkan kepalanya. “Bukan.” Ia tersenyum. “Bisa melihat semua ini bersamamu.” Gakupo terdiam sejenak. Kemudian ia menggenggam tangan Luka dengan lembut. “Aku juga merasakan hal yang sama.” Senyum Luka semakin dalam. Mereka tetap berada di udara untuk beberapa saat, menikmati momen damai itu dalam diam. Akhirnya, Luka melihat ke depan. “Haruskah kita terus terbang?” “Tentu.” Jari-jari mereka tetap saling bertaut. Bersama-sama, mereka mengepakkan sayap dan kembali terbang ke depan, meninggalkan tempat tenang tempat mereka menari tadi. Dunia manusia masih memiliki begitu banyak tempat yang menunggu untuk mereka jelajahi. Dan malam ini, mereka ingin melihat semuanya bersama.
PixAI에서 프롬프트는 기본적으로 공개되지만, 창작자는 자신이 올린 작품마다 프롬프트를 숨길 수 있습니다. 이 작품의 창작자는 프롬프트를 숨기기로 선택했기 때문에, 이미지를 생성하는 데 사용한 단어는 창작자 본인만 볼 수 있습니다. 프롬프트를 숨겨도 그 외에는 달라지는 점이 없습니다. 작품은 그대로 공개되어 있고, 평소처럼 좋아요, 댓글, 공유를 할 수 있습니다.
작성자에 의해 숨겨짐
얼굴 보정
모델 및 LoRA 사용
비슷한 작품
자세히 보기Main dans la main dans le ciel - Vocaloid 神威x巡音
Catarina✨DIT3 LoRAs update 🩷💜✨🪄
Deine Hand unter dem Sternenmeer halten-神威がくぽx巡音ルカ
Catarina✨DIT3 LoRAs update 🩷💜✨🪄
Saya Hanya Ingin Terbang Bersamamu - 神威がくぽx巡音ルカ
Catarina✨DIT3 LoRAs update 🩷💜✨🪄
1
Vẫn Nắm Tay Em Sau Khi Hạ Xuống - Vocaloid 神威x巡音
Catarina✨DIT3 LoRAs update 🩷💜✨🪄
댓글